HARI TUBERKULOSIS SEDUNIA

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Oleh : Tinie Prihantini, S.Kep.,Ners dan Dwi Fera Wittya Sari, S.KM

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Global Tuberculosis Report (GTR) 2024 melaporkan bahwa Indonesia menjadi negara kedua dengan kasus tuberkulosis (TBC) terbanyak di dunia dengan perkiraan 1.090.000 kasus baru dan kematian 125.000 per tahun. Dalam rangka upaya eliminasi TBC pada tahun 2030, Kementerian Kesehatan melakukan strategi akselerasi penemuan kasus TBC secara aktif yang salah satunya melalui optimalisasi Investigasi Kontak (IK) yang terintegrasi dengan pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT).

Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga sering dikenal dengan Basil Tahan Asam (BTA). Sebagian besar kuman TB sering ditemukan menginfeksi parenkim paru dan menyebabkan TB paru, namun bakteri ini juga memiliki kemampuan menginfeksi organ tubuh lainnya (TB ekstra paru) seperti pleura, kelenjar limfe, tulang, dan organ ekstra paru lainnya.

Orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit TB, adalah :

1. Orang dengan HIV positif dan penyakit imunokompromais lain.

2. Orang yang mengonsumsi obat imunosupresan dalam jangka waktu panjang.

3. Perokok

4. Konsumsi alkohol tinggi

5. Anak usia < 5 tahun dan lansia

6. memiliki kontak erat dengan penyakit TBC aktif yang infeksius

7. Berada di tempat yang risiko tinggi terinfeksi Tuberkulosis (contoh : Lembaga permasyarakatan)

8. Petugas Kesehatan

Gejala penyakit TBC:

1. Batuk berdahak

2. Batuk berdahak dapat bercampur darah

3. Dapat disertai nyeri dada

4. Sesak napas

5. Malaise

6.Penurunan berat badan

7. Menurunnya nafsu makan

8. Menggigil

9. Demam

10. Berkeringat di malam hari

Skrining dan penemuan aktif penyakit Tuberkulosis:

  1. Skrining TBC dilakukan pada sasaran target populasi berisiko tinggi TBC seperti kontak serumah dan kontak erat dengan pasien TBC, penyandang diabetes melitus, ODHIV (orang dengan HIV), orang dengan malnutrisi, dan perokok aktif.
  2. Skrining TBC dilakukan dengan skrining gejala dan/atau pemeriksaan rontgen dada.
  3. Skrining TBC yang diutamakan adalah pemeriksaan dahak. Apabila tidak bisa mengeluarkan dahak, dilakukan pemeriksaan rontgen dada.
  4. Pada anak, apabila tidak bisa mengeluarkan dahak dilakukan pemeriksaan Mantoux.

Investigasi Kontak (IK)

a) IK wajib dilakukan pada setiap pasien Tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan TBC.

b) IK dilakukan pada semua kontak serumah dan kontak erat dari pasien TBC

c) IK terintegrasi dengan pemberian TPT (Terapi Pencegahan TBC) dan dilakukan oleh petugas kesehatan, kader, dan komunitas.

Pengobatan tuberkulosis paru

1. Tujuan pengobatan TB adalah :

a. Menyembuhkan, mempertahankan kualitas hidup dan produktivitas pasien

b. Mencegah kematian akibat TB aktif atau efek lanjutan

c. Mencegah kekambuhan TB

d. Mengurangi penularan TB kepada orang lain

e. Mencegah perkembangan dan penularan resistan obat

2. Prinsip Pengobatan TB :

Obat anti-tuberkulosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam pengobatan TB. Pengobatan TB merupakan salah satu upaya paling efisien untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari bakteri penyebab TB.

Pengobatan yang adekuat harus memenuhi prinsip:

a. Pengobatan diberikan dalam bentuk paduan OAT yang tepat mengandung minimal 4 macam obat untuk mencegah terjadinya resistensi

b. Diberikan dalam dosis yang tepat

c. Ditelan secara teratur dan diawasi secara langsung oleh PMO (pengawas menelan obat) sampai selesai masa pengobatan.

d. Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup terbagi dalam tahap awal serta tahap lanjutan untuk mencegah kekambuhan.

3. Tahapan pengobatan TB terdiri dari 2 tahap, yaitu :

a. Tahap awal Pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan pada tahap ini adalah dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin sudah resistan sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan. Pengobatan tahap awal pada semua pasien baru, harus diberikan selama 2 bulan. Pada umumnya dengan pengobatan secara teratur dan tanpa adanya penyulit, daya penularan sudah sangat menurun setelah pengobatan selama 2 minggu pertama.

b. Tahap lanjutan Pengobatan tahap lanjutan bertujuan membunuh sisa-sisa kuman yang masih ada dalam tubuh, khususnya kuman persisten sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan. Durasi tahap lanjutan selama 4 bulan. Pada fase lanjutan seharusnya obat diberikan setiap hari.

Efek samping pengobatan Tuberkulosis

  1. Anoreksia, mual, nyeri perut
  2. Nyeri sendi
  3. Rasa terbakar, kebas atau kesemutan di tangan dan kaki
  4. Rasa mengantuk
  5. Air kemih berwarna kemerahan
  6. Sindrom flu (demam, menggigil, malaise, sakit kepala, nyeri tulang)

Sumber : Permenkes No.67 Tahun 2016 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis